Senin, 02 April 2012

Makalah Kimia : Sistem Koloid

PEMBAHASAN MATERI KOLOID A. Apakah koloid itu? Istilah koloid pertama kali diutarakan oleh seorang ilmuwan Inggris Thomas Graham sewaktu mempelajari sifatv difusi beberapa larutan melalui membrane kertas permanen. Graham menemukan bahwa larutan natrium klorida mudah berdifusi sedangkan kanji, gelatin dan putih telur sangat lambat atu sama sekali tidak berdifusi. Zat-zat yang sukar berdifusi tersebut disebut koloid. Dalam dunia kimia, dikenal istilah system disperse yaitu system yang terdiri dari zat terlarut dan pelarut. Apabila suatu zat dilarutkan ke dalam suatu pelarut, maka zat terlarut tersebut akan terdispersi ke dalam pelarut dan air.. Zat terlarut yang dilarutkandisebut fase terdispersi, dan pelarut yang digunakan untuk melarutkan zat terlarut dinamakan medium pendispersi. Berdasarkan ukuran partikel hasil pendispersinya, sistem dispersi dibagi menjadi 3, yaitu dispersi molekuler (larutan sejati), dispersi koloid (sistem koloid) dan dispersi kasar (campuran/suspensi). Bila garam dapur dilarutkan dalm air akan terbentuk larutan sejati. Komponen-komponen larutan sejati tidak akan terpisah jika didiamkan. Suatu suspensi kasar dapat diperoleh dengan mencampurkan pasir dan air. Pasir dan air akan segera memisah kembali, jika campuran didiamkan. Di antara suspensi kasar dan larutan sejati ada suatu keadaan campuran yang disebut sistem koloid. Sistem koloid adalah suatu campuran berfase dua yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 1 nm sampai dengan 100 nm. Secara umum, sistem koloid adalah campuran yang keadaannya berada diantara larutan (campuran homogen) dan suspense (campuran heterogen). Koloid merupakan campuran dari zat yang sukar berdifusi. Campuran yang terjadi merupakan suatu campuran heterogen di mana partikel-partikel terlarut (fase terdispersi) tersebar secara merata ke dalam mediumnya (medium pendispersi). Fase terdisperasi adalah zat yang terlarut sedangkan medium pendispersi merupakan zat terlarut. Campuran ini merupakan campuran “metastabil” (seolah-olah stabil, tapi akan memisah setelah waktu tertentu. Adapun perbedaan antara dispersi molekuler (larutan sejati), disperse koloid (sistem koloid), dan disperse kasar (campuran/suspensi) adalah sebagai berikut. Tabel 1.1 perbedaan antara larutan sejati, koloid, dan suspensi Aspek yang dibedakan Sistem Dispersi Larutan Sejati Koloid Suspensi Bentuk Campuran Homogen Homogen Heterogen Bentuk Dispersi Dispersi Molekul Dispersi padatan Dispersi Padatan Penulisan X(aq) X(s) X(s) Ukuran Parikel < 1 nm 1 nm- 100 nm >100 nm Fase Tetap homogen Heterogen Heterogen Penyaringan Tidak dapat disaring dengan kertas saring maupun saringan permeabel Tidak dapat disaring dengan kertas saring biasa, tapi dapat disaring denagn saringan permeabel Dapat disaring dengan kertas saring biasa Pemeriksaan Tidak dapat diamati dengan mikroskop biasa, tapi dapat teramati dengan mikroskop elektron Dapat diamati dengan mikroskop ultra Dapat diamati dengan mikroskop biasa Kestabilan Stabil, tidak memisah Mestabil, suatu saat akan memisah Tidak stabil, memisah Contoh Larutan urea, larutan gula, larutan garam, asam cuka, alkohol Susu, keju, nasi, cat, awan, dll Campuran pasir dan air B. Pembuatan Koloid Sistem koloid dapat dibuat dengan dua metode, yaitu dengan metode mengelompokkan (agregasi) partikel larutan sejati dan atau menghaluskan bahan kasar kemudian mendispersikan ke dalam medium pendispersi. Metode pertama disebut kondensasi dan yang kedua disebut dispersi. 1) Metode Kondensasi Pembuatan sistem koloid dengan metode kondensasi merupakan suatu metode pembuatan sistem koloid dengan menggumpalkan larutan partikel larutan sejati (atom, ion atau molekul) menjadi partikel berukuran koloid. Metode kondensasi dapat dilakukan menurut cara penurunan kelarutan atau cara kimia. Penurunan kelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan cara mengganti pelarut. Sebagai contoh, kita membuat sistem koloid P dalam medium pendispersi air. Zat P tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam alkohol, maka larutan P dilarutkan terlebih dahulu. ke dalam alkohol baru kemudian diteteskan ke dalam air sambil dikocok atau diaduk. Seperti kita ketahui, alkohol dan air akan bercampur homogen, sedangkan zat P akan terpisah sebagai partikel-partikel koloid.cara lain untuk menurunkan kelarutan adalah dengan pendinginan, karena kelarutan zat sejalan dengan kenaikan suhu. Semakin rendah suhunya, semakin sukar larut, dan sebaliknya. Adapun cara pembuatan koloid secara kondensasi lainnya adalah sebagai berikut. a) Reaksi hidrolisis Reaksi hidrolisis digunakan untuk membuat koloid pada logam besi (Fe), aluminium (Al), dan Krom (Cr). Hal ini dikarenakan basa tersebut bersifat koloid. Pada pembuatan sol Fe(OH)3, larutan FeCl3 ditambahkan air panas. Persamaan reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut. FeCl3(aq) + H2O(Al) → Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl (aq) b) Reaksi dekomposisi Rangkap Untuk membuat sol AgCl dapat dilakukan dengan cara mencampurkan larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut. AgNO3(aq) + HCl (aq) → AgCl (koloid) + HNO3 Sedangkan untuk membuat sol As2S3 dapat dilakukan dengan cara mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2O3 . reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut. As2O3(aq) + H2S(aq) → As2S3 (koloid) + H2O(l) c) Reaksi Redoks Untuk membuat sol emas, dapat dilakukan dengan mereduksi garamnya dengan menggunakan menggunakan reduktor formaldehida. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut. 2AuCl3(aq) + 3HCOH(aq) + H2O(l) → 2Au (koloid) + 6HCl(aq) + 3HCOOH(aq) d) Penggantian pelarut Belerang mudah larut dalam alcohol (misal etanol) tetapi sukar larut dalam air. Jadi, untuk membuat sol belerang dalam medium pendispersi air, belerang dilarutkan dalam etanol sampai jenuh. Setelah itu, larutan belerang dalam etanol dimasukkan ke dalam air sedikit demi sedikit. Partikel belerang akan menggumpal menjadi koloid akibat penurunan kelarutan belerang dalam air. Kemudian etanol dapat dipisahkan dengan dianalisis, maka terbentuklah sol belerang. 2) Metode dispersi Pembuatan koloid dengan cara disperse merupakan pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus/kecil, dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi, atau dengan loncatan bunga listrik (cara busur Bredig). a. Cara mekanik Dengan cara ini butir-butir kasar deigerus dengan lumping atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu kemudian diaduk dengan medium dispersi. Contoh: Sol belerang dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert (seperti gula pasir), kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air membentuk hidrosol. Cara ini banyak diterapkan pada • Industri makanan, yaitu pada pembuatan es krim, jus buah, selai, dan lainnya. • Industri kimia, yaitu pada pembuatan cat, zat pewarna, pasta gigi, dan detergen. b. Cara peptisasi Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah). Contoh: • agar-agar dipeptisasi oleh air • nitroselusosa dipeptisasi oleh aseton • karet dipeptisasi oleh aseton • endapan NiS dipeptisasi oleh H2S • endapan Al(OH)3 dipeptisasi oleh AlCl3 c. Cara Brusur Bredig (Dispersi Elektrolitik) Cara ini digunakan untuk membuat sol logam dengan cra logam yang akan dijadikan koloid bertindak sebagai elektroda yang dicelupkan dalam medium pendispersi, lalu diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya. Mula-mula atom logam terlempar ke dalam air lalu atom tersebut mengalami kondensasi membentuk partikel koloid. Jadi, cara ini merupakan gabungan dari cara dispersi dan kondensasi. C. Penggolongan Koloid  Berdasarkan Fase Zat Terdispersi dan Medium Pendispersi Sistem koloid tersusun atas fase terdispersi yang tersebar merata pada medium pendispersi. Fase terdispersi maupun medium pendispersi dapat berupa gas, cair, atau padat. Tetapi campuran gas dengan gas tidak membentuk sistem koloid, sebab semua gas akan bercampur homogen dalam segala perbandingan. Tabel 1.2 Macam-macam koloid Berdasarkan Fase Zat Terdispersi dan Medium Pendispersi Fase Terdispersi Medium Pendispersi Nama Koloid Contoh Padat Padat Sol cair Kaca berwarna hitam, intan hitam Padat Cair Sol padat (sol) Cat, tinta, sol emas, tepung dalam air, Sol belerang Padat Gas Sol Gas (Aerosol Gas) Asap pembakaran, debu di iudara Cair Padat Emulsi padat (gel) Jelli, Keju, Margarin, Mentega Cair Cair Emulsi cair (emulsi) Susu, Mayones, lotion Cair Gas Emulsi gas (aerosol cair) Awan, Kabut, Cat semprot, semprotan pewangi ruangan, obat nyamuk semprot Gas Padat Buih padat Batu apung, marswallow, Styrofoam Gas Cair Buih cair Busa sabun, Krim kocok Untuk fase terdispersi dan medium pendispersi gas, bukan termasuk jenis koloid, tetapi digolongkan dalam larutan. Sistem koloid dapat dibedakan menjadi 3, yaitu. a. Sol Sol adalah sistem koloid dengan fase terdispersi padat dalam medium pendispersi padat, cair, dan gas. Berdasarkan medium pendispersinya, sol dibedakan menjadi 3 macam. • Sol padat dengan medium pendispersi padat. Contoh, panduan logam, gelas berwarna, dan intan. • Sol cair atau sol dengan medium pendispersi cair. Contoh, cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat. • Sol gas atau aerosol padat dengan medium pendispersi gas. Contoh, asap, debu di udara. b. Emulsi Emulsi merupakan suatu jenis koloid dengan fase terdispersi berupa zat cair dalam medium pendispersi padat, cair, dan gas. Berdasarkan medium pendispersinya, emulsi dibedakan menjadi 3 macam. • Emulsi padat (gel) dengan medium pendispersi padat. Contoh, Jelli, Keju, Margarin, Mentega • Emulsi cair (emulsi) dengan medium pendispersi cair. Contoh, Susu, Mayones, lotion • Emulsi gas (aerosol cair) dengan medium pendispersi gas. Contoh, Awan, Kabut, Cat semprot, semprotan pewangi ruangan, obat nyamuk semprot Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu. 1. Emulsi minyak dalam air. Misalnya santan, susu dan lateks. 2. Emulsi air dalam minyak. Misalnya mayonase, minyak bumi, dan minyak ikan. c. Buih Buih merupakan jenis koloid dengan fase terdipersi gas dalam medium pendispersi padat dan cair. Berdasarkan medium pendispersinya, buih dibedakan menjadi 2 macam. 1. Buih padat dengan medium pendispersi padat. Contoh, Batu apung, marswallow, Styrofoam 2. Buih cair atau buih dengan medium pendispersi cair. Contoh, buih sabun dan putih telur.  Berdasarkan Ion Teradsorpsi Pada Partikel Koloid a) Koloid positif: partikel koloid mengadsorpsi ion positif b) Koloid negatif: partikel koloid mengadsorpsi ion negative Contoh: FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)  Berdasarkan Interaksi Zat Terdispersi dan Medium Pendispersi Berdasarkan interaksi ini, koloid dibagi atas a) Sol liofil (atau hidrofil jika pendispersinya air): interaksi antara zat terdispersi dan medium pendispersi kuat. Contoh: agar, susu, santan. b) Sol liofob (atau hidrofob jika penddispersinya air): interaksi antara zat terdispersi dan medium pendispersi lemah. Contoh: sol belerang, sol emas. D. Sifat-sifat koloid Sistem koloid mempunyai sifat yang khas, seperti efek Tyndall, gerak Brown, adsorpsi, muatan koloid dan elektroforesis, koagulasi, dan pelindung. 1. Efek Tyndall (Sifat Optik) Salah satu cara yang mudah untuk mengenali sifat koloid adalah dengan melewatkan seberkas cahaya pada koloid tersebut. Partikel koloid akan memantulakan dan menghamburkan cahaya yang dapat kita amati. Peristiwa pemantulan atau penghamburan cahaya oleh paetikel itulah disebut efek Tyndall. Sedangkan pada larutan sejati tidak terjadi efek Tyndall karena cahaya yang lewat tidak dihamburkan tetapi diteruskan. Hal ini karena ukuran partikel larutan sangat kecil sehingga tidak mampu memantulakan cahaya yang diterimanya. Dalam kehidupan sehari-hari efek Tyndall dapat dilihat antara lain: a. Tampaknya hamburan cahaya lampu kendaraan atau lampu senter pada malam hari. b. Tampaknya cahaya proyektor pada gedung bioskop oleh asap rokok penonton. c. Pengahamburan cahaya oleh partikel koloid yang mengakibatkan langit berwarna biru. d. Warna cahaya matahari pada saat akan terbit/terbenam, karena cahaya matahari mengalami difraksi oleh partikel-partikel koloid di atmosfer. 2. Gerak Brown Salah satu ciri dari koloid adalah stabil (tidak mengendap). Hal ini dapat dijelaskan karena partikel-partikel koloid senantiasa bergerak dalam medium pendispersinya sehingga dapat mengimbangi gaya gravitasi. Gerakan partikel koloid yang terus menerus secara acak dan patah-patah (zig-zag) pertama kali ditemukan oleh Robert Brown, seorang ahli Botani Inggris, dengan mikroskop ultra. Sebagai penghargaan untuk penemuannya, maka gerakan partikel koloid tersebut disebut gerak Brown. Pada saat kita melihat seberkas cahaya matahari ke dalam kamar yang gelap, kita akan selalu melihat gerakan-gerakan partikel yang terus-menerus, gesit, dan tidak teratur. Jika gerakan partikel tersebut diamati dengan alat pembesar (mikroskop), sebenarnya gerakan partikel itu lurus dan terputus-putus. Gerakan acak, lurus, dan terputus-putus dari partikel koloid itu disebut geak Brown. Gerak Brown dapat terjadi akibat tumbukan antar partikel dalam sistem koloid. Makin kecil ukuran partikel koloid, makin cepat gerak Brown yang terjadi. Sebaliknya makin besar ukuran partikel koloid, makin lambat gerak Brown. Itulah sebabnya pada partikel suspensi tidak dijumpai gerak Brown. 3. Muatan listrik pada partikel koloid a. Elektroforesis Jika sepasang elektrode dimasukkan ke dalam sistem koloid dan kedua electrode dihubungkan denagn arus listrik searah (DC), maka partikel-partikel koloid akan bergerak kea rah electrode tersebut, karena partikel-partikel koloid bermuatan listrik. Partikel bermuatan (+) akan menuju elektrode negatif sedangkan partikel koloid bermuatan (-) akan menuju elektroda positif. Gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik disebut elektroforesis. Pada peristiwa elektroforesis partikel koloid akan dinetralkan dan digumpalkan pada elektrode. Beberapa kegunaan dari prinsip elektroforesis antara lain: 1). Untuk menentukan jenis muatan koloid 2). Pembersihan asap cerobong pabrik sehingga mengurangi polusi udara. 3). Pelapisan karet pada permukaan logam dengan sol lateks. b. Adsorbsi Peristiwa penyerapan ion permukaan partikel koloid disebut adsorbsi. Besarnya zat asing yang diabsorpsi tergantung pada luas permukaan partikel koloid. Koloid Fe(OH)3 dalam air akan menyerap ion H+ sehingga bermuatan positif, sedangakan koloid As2S3 dalam air akan menyerap ion S2 sehingga bermuatan negatif. Dengan adanya sifat adsorbsi pada partikel koloid maka koloid sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, antar lain digunakan pada: 1) Proses pemutihan gula pasir, gula yang masih kotor (coklat) dialirkan dalam air koloid seperti karbon. Kotoran gula akan diadsorbsi oleh karbon, sehingga gula menjadi putih. 2) Penyembuhan sakit perut dengan serbuk karbon (norid). Campuran serbuk karbon denga cairan usus dalam perut akan membentuk sistem koloid yang mampu mengadsorbsi kuman yang berbahaya/racun. 4. Koagulasi Koagulasi atau penggumpalan merupakan proses yang dapat menyebabkan partikel koloid bergabung dengan zat lain (zat elektrolit) membentuk endapan. Koloid yang bermuatan positif akan menarik ion positif dari zat elektrolit, sedangkan koloid yang bermuatan negatif akan menarik ion negatifnya sehingga koloid kehilangan muatan. Akibatnya koloid menjadi tidak stabil dan mengalami koagulasi. Selain dengan penambahan zat elektrolit, ada beberapa faktor lain yang dapat mempercepat proses koagulasi, yaitu konsentrasi muatan (elektrolit) yang besar, pemanasan, pendinginan, dan pengadukan. 5. Koloid pelindung Koloid pelindung adalah sistem koloid yang dapat melindungi kestabilan koloid lain. Koloid pelindung ini membentuk lapisan di sekeliling partikel koloid yang lain sehingga melindungi muatan koloid lain tersebut. Koloid pelindung ini banyak digunakan dalam pembuatan es krim, obat-obatan, tinta dan cat. 6. Dialisis Dialisis adalah cara untuk menstabilkan koloid dari ion-ion pengganggu dengan memasukkan koloid ke dalam kantong yang terbuat dari kertas perkamen atau membrane selofan. Kantong yang bersifat semipermebel hanya dapat dilalui oleh ion-ion dan tidak dapat dilewati partikel;koloid. Dengan demikian partikel koloid terhindar dari pengaruh ion-ion pengganggu tersebut. 7. Koloid liofil dan koloid liofob Koloid liofil merupakan koloid yang fase terdispersinya mempunyai afinitas besra atau mudah menarik medium pendispersinya. Contoh sabun, detergen, dan kanji. Sedangkan koloid liofob merupakan koloid yang fase terdispersinya mempunyai afinitas kecil atau menolak medium pendispersinya. Contoh disperse emas, belerang dalam air, dan Fe(OH)3. Jika medium pendispersinya air, maka istilah yang digunakan adalah koloid hidrofil dan koloid hidrofob. Perbedaan sifat-sifat koloid liofil (sol liofil) dan koloid liofol (sol liofob) dapat dilihat pada table 1.3 berikut. Tabel 1.3 Perbedaan sifat-sifat sol liofob dan sol liofil. Sifat Sol Liofil Sol liofob Pembuatan Dapat dibuat langsung dengan cara mencampurkan fasa terdispersi dengan medium pendispersinya Tidak dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fasa terdispersi dengan medium pendispersinya Muatan Partikel Bermuatan kecil atau sama sekali tidak bermuatan Bermuatan positif atau negatif Adsorpsi medium pendispersi Mengadsorpsi medium pendispersinya Tidak mengadsorpsi medium pendispersinya Viskositas (kekentalan) Lebih besar daripada medium pendispersinya Hampir sama dengan medium pendispersinya Koagulasi (penggumpalan) Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit Efek Tyndall Kurang jelas Tampak jelas Contoh Sabun, detergen, dan kanji Dispersi emas dan belerang dalam air Koloid liofil bersifat lebih stabil daripada koloid liofob, sehingga koloid liofil berfungsi sebagai koloid liofil. Contoh penggunaan koloid pelindung antara lain pada pembuatan es krim, dimana gelatin,ditambahkan unutk mencegah penggumpalan partikel-partikel es. E. Pemurnian Koloid Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memurnikan koloid, yaitu sebagai berikut. 1. Cara Dialisis Pada proses pembuatan suatu koloid dalam air, sering terdapat ion-ion yang dapat mengganggu kestabilan koloid tersebut. Oleh karena itu, ion-ion pengganggu perlu dihilangkan dengan suatu proses yang disebut dialisis. Koloid dimasukkan ke dalam kantong yang terbuat dari selaput semipermeabel. Selaput ini dapat melewatkan molekul-molekul air dan ion-ion, tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel-partikel koloid. Jika kantong yang berisi koloid dimasukkan ke dalam air, maka ion-ion pengganggu akan menembus selaput, masuk ke dalam air, dan partikel-partikel koloid tetap berada dalam kantong. Proses dialisis ini dapat dipercepat jika menggunakan air yang mengalir. Prinsip dialisis ini dipakai oleh dunia kedokteran sebagai metode cuci darah untuk pasien gagal ginjal. Untuk memisahkan dengan cepat suatu koloid yang tercampur dengan larutan elektrolit dengan elektrodialisis yang prinsipnya seperti elektrolisis tetapi memakai membrane semipermeabel sebagai diafragma. 2. Ultrafiltrasi Untuk memisahkan koloid dari medium dispersinya dapat dilakukan dengan ultrafiltrasi. Pada proses ini, medium dispersinya dipaksa menembus membran semipermeabel dengan bantuan pompa air atau pompa vakum. 3. Elektroforesis Elektroforesis merupakan proses pemisahan koloid yang bermuatan dengan bantuan alat arus listrik, sehingga partikel-partikel kolois akan mengalir ke elektroda yang muatannya berlawanan dan mengalami koagulasi pada elektroda tersebut. F. Aplikasi Sifat Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari Kelebihan yang dimilki oleh sistem koloid dimanfatkan manusia untuk menunjang sendi-sendi kehidupan. Beberapa penerapan sifat koloid dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut. 1. Pengendap Cottrell dapat digunkan untuk mengurangi polusi udara dari pabrik dan sekaligus untuk memperoleh kembali debu yang berharga (debu logam). Metode ini dikembangkan oleh Frederich Cottrell (1877-1948) dari Amerika Serikat, dan dikenal dengan metode Cottrell. Cerobong asap pabrik dilengkapi dengan suatu “pengendap elektrostatika” beruapa lempengan logam yang bermuatan listrik, yang akan mengendapkan partikel koloid yang terdapat dalam asap/debu yang keluar dari cerobong asap. 2. Dalam proses industry pembuatan sarung tangan dari karet, karet diendapkan pada cetakan berbentuk tangan secara elektroforesis. 3. Partikel tanah liat dalam air sungai merupakan koloid yang akan mengendap jika bertemu dengan air laut, sehingga terjadilah delta di daerah muara. 4. Prinsip adsorpsi digunakan untuk memurnikan gula. yang masih kotor (coklat) dialirkan dalam air koloid seperti karbon. Kotoran gula akan diadsorbsi oleh karbon, sehingga gula menjadi putih. 5. Untuk mewarnai serat wol, kapas atau sutra digunakan cara adsorpsi. Serat yang akan diwarnai dicampurkandengan garam Al2(SO4)3, lalu dicelupkan dalam larutan zat warna. Koloid Al(OH)3, yang terbentuk karena hidrolisa Al2(SO4)3 akan mengadsorpsi zat warna. 6. Serbuk karbon yang terkenal dengan norit dapat menyembuhkan sakit perut dengan cara adsorpsi. Dalam usus, campuran serbuk karbon dengan air akan membentuk sistem koloid yang mampu mengadsorpsi dan membunuh bakteri-bakteri yang berbahaya. PENUTUP A. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini yaitu sistem koloid adalah campuran yang keadaannya berada diantara larutan (campuran homogen) dan suspense (campuran heterogen). Koloid merupakan campuran dari zat yang sukar berdifusi. Campuran yang terjadi merupakan suatu campuran heterogen di mana partikel-partikel terlarut (fase terdispersi) tersebar secara merata ke dalam mediumnya (medium pendispersi). Fase terdisperasi adalah zat yang terlarut sedangkan medium pendispersi merupakan zat terlarut. Campuran ini merupakan campuran “metastabil” (seolah-olah stabil, tapi akan memisah setelah waktu tertentu. Sistem koloid dapat dibuat dengan dua metode, yaitu dengan metode mengelompokkan (agregasi) partikel larutan sejati dan atau menghaluskan bahan kasar kemudian mendispersikan ke dalam medium pendispersi. Metode pertama disebut kondensasi dan yang kedua disebut dispersi. B. Saran Saat melakukan eksperimen, usahakan menggunakan sarung tangan dan masker agar bahan-bahan kimia yang terbilang keras tidak terkontaminasi langsung dengan organ-organ tubuh yang dapat merusak organ tubuh tersebut. Setelah melakukan eksperimen, bersihkan semua peralatan yang digunakan agar tidak terkontaminasi dengan zat kimia lain. Tetap jaga kebersihan. DAFTAR PUSTAKA Giriarso, Jodhi Pramuji dan Rahayu Nurhayati. 2007. Rangkuman KIMIA SMA. Jakarta: gagasmedia Hendrajanti, Paulina. 2007. Konsep dan Penerapan Kimia. Surakarta: Widya Duta Grafika Hernani, dkk. 2007. Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Bogor: Regina Komaruddin Omang. 2010. Ringkasan Lengkap KIMIA SMA Kelas 1, 2, & 3. Jakarta: Cmedia Marhandijanti, Efemiah, dkk. 2004. Materi Kimia untuk Kelas 2 SMA. Surabaya: Galeri Wacana Surabaya Partana, Crys Fajar dan Wiyarsi, Antuni. 2007. Mari Belajar Kimia untuk SMA-MA Kelas XI IPA. Surabaya: SIC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar