Minggu, 01 April 2012

Makalah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan : HIV/AIDS dan Gejala-Gejala serta Komplikasi yang Diakibatkan

BAB I Pengertian HIV/AIDS dan gejala-gejala serta komplikasi yang Diakibatkan A. Pengertian HIV/AIDS A. Virus HIV HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek biasa.  HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau cairan vagina  Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun.  Walaupun tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian. B. Penyakit AIDS AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus hiv dalam tubuh makhluk hidup. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat menjadi AIDS yang mematikan. Seseorang dapat menjadi HIV positif. Saat ini tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dapat menyembuhkan manusia dari Virus HIV penyebab penyakit AIDS. B. Gejala-gejala yang diakibatkan penularan virus HIV Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan kaena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 - 6 bulan untuk membentuk antibodi yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period (periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi. Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah: • Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan) • Diare berkepanjangan (lebih dri satu bulan) Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa : • Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan) • Kelainan kulit dan iritasi (gatal) • Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha. Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh bakteri, virus, fungi dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati pada penderita AIDS. HIV mempengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita AIDS juga beresiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien. BAB II Penyebab dan cara penularan HIv/aids A. Penyebab HIV/AIDS A. AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofag, dan sel dendritik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ dibutuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (┬ÁL) darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu. b. Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup setelah mengalami AIDS hanya sekitar 9,2 bulan.[25] Namun demikian, laju perkembangan penyakit ini pada setiap orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk bertahan melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.[26][27] Orang tua umumnya memiliki kekebalan yang lebih lemah daripada orang yang lebih muda, sehingga lebih beresiko mengalami perkembangan penyakit yang pesat. Akses yang kurang terhadap perawatan kesehatan dan adanya infeksi lainnya seperti tuberkulosis, juga dapat mempercepat perkembangan penyakit ini.[25][28][29] Warisan genetik orang yang terinfeksi juga memainkan peran penting. Sejumlah orang kebal secara alami terhadap beberapa varian HIV. [30] HIV memiliki beberapa variasi genetik dan berbagai bentuk yang berbeda, yang akan menyebabkan laju perkembangan penyakit klinis yang berbeda-beda pula.[31][32][33] Terapi antiretrovirus yang sangat aktif akan dapat memperpanjang rata-rata waktu berkembangannya AIDS, serta rata-rata waktu kemampuan penderita bertahan hidup. B. Cara Penularan virus HIV HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS. Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu : 1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom 2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama 3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik 4. Bayi yang ibunya positif HIV Sedikitnya ada 3 cara penularan HIV/AIDS, yaitu: a. Penularan seksual Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih beresiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan resiko hubungan seks anal lebih besar daripada resiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak beresiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. Penyakit menular seksual meningkatkan resiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofag) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar resiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah, infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofag. Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan. b. Kontaminasi patogen melalui darah Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan resiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di Amerika Utara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi resiko itu. Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada fasilitas kesehatan yang tidak aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan universal untuk mencegah penularan HIV melalui fasilitas kesehatan. Resiko penularan HIV pada penerima transfusi darah sangat kecil di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO, mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui transfusi darah yang terinfeksi". c. Penularan masa perinatal Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat memengaruhi resiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi resikonya). Menyusui meningkatkan resiko penularan sebesar 4%. BAB III Mencegah penularan HIV/AIDS HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup. A. Skrining Dengan Teknologi Modern Sebagian besar test HIV adalah test antibodi yang mengukur antibodi yang dibuat tubuh untuk melawan HIV. Ia memerlukan waktu bagi sistim imun untuk memproduksi antibodi yang cukup untuk dideteksi oleh test antibodi. Periode waktu ini dapat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya. Periode ini biasa diseput sebagai ‘periode jendela’. Sebagian besar orang akan mengembangkan antibodi yang dapat dideteksi dalam waktu 2 sampai 8 minggu. Bagaimanapun, terdapat kemungkinan bahwa beberapa individu akan memerlukan waktu lebih lama untuk mengembangkan antibodi yang dapat terdeteksi. Maka, jika test HIV awal negatif dilakukan dalam waktu 3 bulan setelah kemungkinan pemaparan kuman, test ulang harus dilakukan sekitar 3 bulan kemudian, untuk menghindari kemungkinan hasil negatif palsu. 97% manusia akan mengembangkan antibodi pada 3 bulan pertama setelah infeksi HIV terjadi. Pada kasus yang sangat langka, akan diperlukan 6 bulan untuk mengembangkan antibodi terhadap HIV. Tipe test yang lain adalah test RNA, yang dapat mendeteksi HIV secara langsung. Waktu antara infeksi HIV dan deteksi RNA adalah antara 9-11 hari. Test ini, yang lebih mahal dan digunakan lebih jarang daripada test antibodi, telah digunakan di beberapa daerah di Amerika Serikat. Dalam sebagian besar kasus, EIA (enzyme immunoassay) digunakan pada sampel darah yang diambil dari vena, adalah test skrining yang paling umum untuk mendeteksi antibodi HIV. EIA positif (reaktif) harus digunakan dengan test konformasi seperti Western Blot untuk memastikan diagnosis positif. Ada beberapa tipe test EIA yang menggunakan cairan tubuh lainnya untuk menemukan antibodi HIV. Mereka adalah • Test Cairan Oral. Menggunakan cairan oral (bukan saliva) yang dikumpulkan dari mulut menggunakan alat khusus. Ini adalah test antibodi EIA yang serupa dengan test darah dengan EIA. Test konformasi dengan metode Western Blot dilakukan dengan sampel yang sama. • Test Urine. Menggunakan urine, bukan darah. Sensitivitas dan spesifitas dari test ini adalah tidak sebaik test darah dan cairan oral. Ia juga memerlukan test konformasi dengan metode Western Blot dengan sampel urine yang sama. Jika seorang pasien mendapatkan hasil HIV positif, itu tidak berarti bahwa pasangan hidup dia juga positif. HIV tidak harus ditransmisikan setiap kali terjadi hubungan seksual. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan hidup pasien tersebut mendapat HIV positif atau tidak adalah dengan melakukan test HIV terhadapnya.Test HIV selama kehamilan adalah penting, sebab terapi anti-viral dapat meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan kemungkinan dari wanita hamil yang HIV positif untuk menularkan HIV pada anaknya pada sebelum, selama, atau sesudah kelahiran. Terapi sebaiknya dimulai seawal mungkin pada masa kehamilan. Di Indonesia, rumah sakit besar di ibu kota provinsi telah menyediakan fasilitas untuk test HIV/AIDS. Di Jakarta, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah sakit lain juga sudah memiliki fasilitas untuk itu. Di Bandung, RS Hasan Sadikin juga sudah memiliki fasilitas yang sama. BAB IV DAMPAK HIV/AIDS 1. Dampak pada diri sendiri  Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit, karena sistem kekebalan di dalam tubuhnya telah menurun. Ada berbaga penyakit yang paling mudah menyerang penderita AIDS, seperti Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan), kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan serta pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.  Penderita AIDS juga beresiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.  Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat hidup pasien.  Setelah berbaga macam penyakit menyerang tubuh penderita AIDS, sebagian besar organ si penderita tidak dapat lagi bekerja dan akhirnya menyebabkan kematian 2. Dampak pada keluarga  Sering kali sektor masyarakat paling miskin yang paling rentan terhadap epidemi dan untuk siapa konsekuensi yang paling parah.  Dalam banyak kasus, rumah tangga larut karena AIDS, karena orang tua meninggal dan anak-anak dikirim ke kerabat untuk perawatan dan pendidikan.  Data menunjukkan bahwa rumah tangga di mana seorang dewasa telah meninggal karena AIDS empat kali lebih mungkin untuk membubarkan daripada mereka di mana tidak ada kematian telah terjadi.  Di Botswana, diperkirakan bahwa rata-rata, setiap pendapatan pencari nafkah kemungkinan untuk mendapatkan satu tambahan tergantung selama sepuluh tahun berikutnya akibat epidemi AIDS.  Sebuah peningkatan dramatis dalam rumah tangga miskin, mereka yang tidak berpenghasilan, juga diharapkan.  Anak-anak mungkin terpaksa meninggalkan pendidikan mereka dan dalam beberapa kasus perempuan mungkin terpaksa beralih ke prostitusi yang pada gilirannya dapat menyebabkan risiko yang lebih tinggi penularan HIV.  Sebuah studi di Burkina Faso, Rwanda, dan Uganda, telah menghitung bahwa AIDS tidak hanya akan mengubah kemajuan dalam mengurangi kemiskinan, tetapi juga akan meningkatkan persentase orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrim (dari 45% pada tahun 2000 menjadi 51% pada tahun 2015).  Rumah tangga miskin sudah mengatasi anggota yang sakit dari HIV atau AIDS dipaksa untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan seperti pakaian, listrik dan bahkan makanan.  Kematian laki-laki muncul untuk mengurangi produksi 'tanaman' (misalnya kopi, teh, dan gula), sementara kematian perempuan mengurangi produksi padi dan tanaman lain yang diperlukan untuk kelangsungan hidup rumah tangga.  Hilangnya pendapatan, tambahan biaya yang berhubungan dengan perawatan, berkurangnya kemampuan pengasuh untuk bekerja, dan meningkatnya biaya medis mendorong rumah tangga yang terkena dampak lebih dalam kemiskinan. Diperkirakan bahwa rata-rata, perawatan terkait HIV dapat menyerap sepertiga dari pendapatan bulanan rumah tangga.  Hampir selalu, beban mengatasi terletak dengan perempuan. Ketika seorang anggota keluarga menjadi sakit, perempuan seringkali terpaksa untuk mulai bekerja di luar rumah mereka. Pada bagian Zimbabwe, misalnya, perempuan pindah ke didominasi laki-laki secara tradisional industri perkayuan, yang sering menyebabkan perempuan memiliki sedikit waktu untuk pekerjaan rumah tangga.  Penyadapan yang tersedia tabungan dan mengambil lebih banyak utang biasanya pilihan pertama yang dipilih oleh rumah tangga berjuang untuk membayar untuk perawatan medis atau pemakaman. Sebagai utang mount, aset berharga seperti ternak dan bahkan tanah dijual, dan sebagai utang meningkat, kesempatan untuk memulihkan dan membangun kembali berkurang.  Sebagai orang tua dan anggota keluarga jatuh sakit, anak-anak mengambil lebih banyak tanggung jawab untuk mendapatkan penghasilan, menghasilkan makanan, dan menyediakan perawatan untuk anggota keluarga.  Lebih sulit untuk anak-anak untuk mengakses gizi yang cukup, perawatan kesehatan dasar, perumahan, dan pakaian.  Sering kali kedua orang tua HIV positif di Afrika, akibatnya lebih banyak anak-anak telah yatim piatu karena AIDS di Afrika daripada di tempat lain.  Salah satu tanggapan yang lebih menguntungkan untuk kematian dalam rumah tangga miskin mengeluarkan anak-anak (terutama perempuan) dari sekolah, seperti seragam dan biaya menjadi terjangkau. Pendidikan dasar yang baik peringkat di antara yang paling efektif dan biaya-efektif untuk mencegah HIV. 3. Dampak pada masyarakat  Sebagian besar orang yang hidup dengan HIV di Afrika yang berusia antara 15 dan 49 - di puncak kehidupan kerja mereka. Akibatnya, tenaga kerja secara dramatis terpengaruh, menciptakan sebuah set-back dalam kemajuan ekonomi dan sosial.  Perusahaan biaya untuk perawatan kesehatan, pemakaman manfaat, dan komitmen dana pensiun cenderung meningkat karena jumlah orang yang mengambil pensiun dini, atau mati, meningkat.  Sebagai dampak dari epidemi pada rumah tangga individu parah, permintaan pasar untuk produk dan jasa jatuh.  Epidemi hits produktivitas melalui peningkatan ketidakhadiran, yang dapat menjelaskan sebanyak 25-54% dari biaya perusahaan menurut studi perbandingan bisnis Afrika Timur.  Di selatan negara Afrika, AIDS terkait dengan ini bisa memotong keuntungan efek oleh sekurang-kurangnya 6-8%. 40% dari perusahaan melaporkan efek negatif yang disebabkan oleh HIV dan AIDS.  Hanya 13% dari perusahaan (dengan kurang dari 100 pekerja) yang disurvei memiliki kebijakan perusahaan di tempat untuk menangani HIV dan AIDS.   HIV dan AIDS menyebabkan penurunan suplai tenaga kerja melalui peningkatan angka kematian dan penyakit. Di antara mereka yang mampu bekerja, produktivitas cenderung menurun sebagai akibat dari penyakit terkait HIV.  Pendapatan pemerintah juga menurun, karena pendapatan pajak jatuh dan pemerintah mendapat tekanan untuk meningkatkan pengeluaran mereka untuk menghadapi epidemi yang meluas.  AIDS membatasi kemampuan negara-negara Afrika untuk menarik industri yang bergantung pada tenaga kerja biaya rendah, dan karena tingkat risiko, investasi di bisnis Afrika kurang diinginkan.  Dampak bahwa AIDS telah pada perekonomian negara-negara Afrika adalah sulit untuk mengukur namun para ahli memperkirakan bahwa ada kerugian 1% di Sub-Sahara Afrika produk domestik bruto (PDB). Hal ini mungkin tampak kecil, tetapi memiliki potensi untuk berkembang dari waktu ke waktu.  Epidemi ini memiliki beban yang luar biasa sudah bermasalah sektor kesehatan. Sebagai epidemi dewasa, permintaan perawatan bagi mereka yang hidup dengan HIV meningkat, seperti halnya tol AIDS pada petugas kesehatan.  Di sub-Sahara Afrika, biaya medis langsung AIDS telah diperkirakan sekitar US $ 30 per tahun untuk setiap orang yang terinfeksi. Keseluruhan pengeluaran kesehatan publik kurang dari US $ 10 per tahun di sebagian besar negara-negara Afrika.  Di sub-Sahara, Afrika, orang dengan penyakit terkait HIV menempati lebih dari setengah dari tempat tidur rumah sakit.  Pasien positif HIV tinggal di rumah sakit empat kali lebih lama dibandingkan pasien lain dan itu diperkirakan bahwa pasien dengan HIV dan AIDS akan segera rekening untuk 60-70% dari pengeluaran rumah sakit di Afrika Selatan.  Untuk menghemat tempat, orang tidak mengakui sampai mereka berada dalam tahap penyakit, mengurangi kesempatan mereka untuk pemulihan.  Ada kekurangan peningkatan profesional kesehatan akibat infeksi dan kematian, serta beban kerja yang berlebihan, miskin membayar, dan godaan untuk berpindah ke negara-negara kaya sekali dilatih.  Meskipun kenaikan baru-baru ini dalam penyediaan obat antiretroviral (ARV, yang secara signifikan menunda perkembangan dari HIV ke AIDS) telah membawa harapan untuk banyak orang di Afrika, juga menempatkan peningkatan ketegangan pada pekerja kesehatan menyediakan ARV karena memerlukan lebih banyak waktu dan pelatihan daripada yang saat ini tersedia di banyak negara. Penutup  Kesimpulan Dari penjelasan makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV. Cara Penularandapat melalui hubungan seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau produk darah yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungannya, saat persalinan, atau saat menyusui.  Kritik dan saran Sehubungan dengan pembahasan makalah ini, yaitu tentang HIV/AIDS, kami harap pembaca dapat menghindari penularan HIV/AIDS. Karena sekali terjangkit virus HIV, penderita akan menyesal seumur hidup karena sampai saat ini belum ada cara menyembuhkan penyakit AIDS. Sebagai penutup makalah ini, kami meminta maaf kepada semua pihak jika ada salah kata, seperti kata pepatah “jika ada jarum yang patah jangan simpan di laci, jika ada kata yang salah jangan simpan di hati”. Kami mengucapkan banyak terima kasih utamanya kepada Allah SWT, orangtua yang telah membesarkan kami semua serta guru yang senantiasa membimbing kami, dan tak lupa semua pihak yang telah mendukung kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Akhirnya, sekian makalah yang kami buat, terima kasih banyak dan akhir kata Wassalamu Alaikum Wr. Wb. Daftar pustaka Anonym. 2009. Human Immunodeficiency Virus (HIV). (Online), (http://www.cellsalive.com/hiv0.htm, diakses tanggal 28 Desember 2009) Anonym. 2009. Cara Mencegah Penularan HIV. (Online), (http://aids-ina.org/modules.php?name=Downloads&d_op=getit&lid=72, diakses tanggal 28 Desember 2009) Anonym. 2009. HIV dan AIDS. (Online), (http://channels.dal.net/gim/aids/aids.html, diakses tanggal 28 Desember 2009) Parikesit, Arli Aditya. 2009. Lebih Jauh dengan HIV/AIDS dan Penanggulangannya. (Online), (http://netsains.com/2008/02/lebih-jauh-dengan-hivaids-dan- penanggulanggannya, diakses tanggal 28 Desember 2009) Syamsuri, Istamar. 2007. IPA Biologi untuk SMP Kelas IX. Malang: Erlangga Spririta. 2009. Apa AIDS itu? (Online), (http://spiritia.or.id/li/bacali.php?lino=101, diakses tanggal 28 Desember 2009)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar