Minggu, 01 April 2012

Makalah Sejarah : Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit

Bab i Kerajaan Singasari Sejarah kerajaan Singasari berawal dari daerah Tumapel,yang dikuasai oleh seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang subur di wilayah Malang dengan pelabuhannya yag bernama Pasuruan. Dari daerah inilah Kerajaan Singasari berkembang dan bahkan menjadi sebuah kerajaan besar di Jawa Timur. Perkembangan pesat yang dialami Kerajaan Singasari ini setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di dekat Ganter tahun 1222 M. Sumber sejarah Sumber-sumber sejarah Kerajaan Singasari berasal dari:  Kitab Pararaton yang menceritakan tentang raja-raja Singasari  Kitab Negara Kertagama, berisi silsilah raja-raja Majapahit yang memiliki hubungan erat dengan raja-raja Singasari.  Prasasti-prasasti sesudah tahun 1248 M.  Berita-berita asing (berita Cina), menyatakan bahwa Kaisar Khubilai Khan (China) mengirim pasukannya untuk menyerang kerajaan Singasari.  Peninggalan-peninggalan purba kala berupa bangunan-bangunan candi yang menjadi makam dari raja-raja Singasari, seperti, candi Kidal , candi Jago, candi Singasari dll. 1. Berdirinya Kerajaan Singasari Setelah berakhirnya kerajaan Kediri berkembanglah kerajaan Singasari. Pusat kerajaan Singasari kira-kira terletak di dekat Malang, Jawa Timur. Kerajaan ini didirikan oleh Ken arok . Ken arok berhasil tampil sebagai raja walaupun dia berasal dari kalangan rakyat biasa . ia membunuh seorang Akuwu (Bupati) Tumapel, bernama Tunggul Ametung dengan keris Empu Gandring. Setelah Tunggul Ametung terbunuh, Ken Arok menggantikannya sebagai penguasa Tumapel dan memperistri Ken Dedes. Pada waktu diperistri oleh Ken Arok, Ken Dedes sudah mengandung tiga bulan, hasil perkawinannya dengan Tunggul Ametung. Pada waktu itu Tumapel hanya daerha bawaan Raja Kertajaya dai Kediri. Ken Arok ingin menjadi raja, ia merencanakan menyerang Kediri. Pada tahun 1222 M, Ken Arok atas dukungan para pendeta melakukan serangan ke Kediri. Raja Kertajaya dapat ditaklukkan oleh Ken Arok dalam pertempuran di Ganter, dekat pujon, Malang. Setelah Kediri berhasil ditaklukkan, seluruh wilayah Kediri dipersatukan dengan Tumapel dalam suatu kekuasaan sehingga lahirlah kerajaan Singasari. 2. Perkembangan pemerintah Kerajaan Singasari. Kehidupan Politik Kerajaan Singasari yang pernah mengalami kejayaan dalam perkembangan sejarah Hindu di Indonesia dan bahkan menjadi cikal bakal kerajaan Majapahit, pernah diperintah oleh raja-raja sebagai berikut:  Raja Ken Arok Kemenangan Ken Arok dalam pertempuran di dekat Ganter tahun 1222 M, itu membawa keharuman namanya, sehigga akhirnya Ken Arok memutuskan untuk membentuk dinasti yang baru serta membangun kerajaan yang baru dengan nama kerajaan Singasari. Ken Arok sebagai raja Singasari pertama bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi dan dinastinya bernama dinasti Girindrawangsa (Dinasti keturunan Siwa). Pendirian dinasti ini bertujuan untuk menghilangkan jejak, tentang siapa sebenarnya Ken Arok dan mengapa ia berhasil mmendirikan kerajaan. Disamping itu, agar keturunan Ken Arok bila suatu saat menjadi raja besar tidak ternoda oleh perilaku dan tindakan-tindakan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Ken Arok. Raja KenArok memerintah antara tahun 1222-1227 M. masa pemerintahan Ken Arok diakhiri secara tragis pada tahun 1227 ia mati terbunuh oleh kaki tangan Anusapati yang merupakan anak tirinya (anak Ken Dedes dari suami pertamanya Tunggal Ametung).  Raja Anusapati Dengan meniggalnya Ken Arok, tahta kerajaan Singasari langsung dipegang Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahan yang cukup lama itu (1227-1248 M). Anusapati tidak melakukan pembaharuan-pembaharuan, karena Anusapati telah larut dengan kegemarannya sendiri, yaitu menyabung ayam. Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai kepada putra Ken Aron dengan Ken Umang yang bernama Tohjaya. Tohjaya mengetahui bahwa Anusapati suka menyabung ayam, sehingga untuk membalas dendam terhadap kematian Ken Arok tidak mengalami kesulitan. Kemudian, Anusapati diundang untuk menyabung ayam di Gedong Jiwa (tempat kediaman Tohjaya). Saat Anusapati sedang asyik melihat aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjaya mencabut keris Empu Gandring yang dibawa Anusapati dan langsung menusukkan ke punggung Anusapati. Akhirnya, Anusapati meninggal ditempat sabungan ayam.  Raja Tohjaya Dengan meninggalnya Anusapati, tahta kerajaan dipegang oleh Tohjaya. Tohjaya memerintah. kerajaan Singasari hanya beberapa bulan saja(1248 M), karena putra Anusapati yang bernama Ranggawuni mengetahui perihal kematian Anusapati yang dibunuh oleh Tohjaya. Oleh karena itu, Ranggawuni yang dibantu oleh Mahesa Cempaka menuntut hak atas tahta kerajaan kepada Tohjaya. Tetapi Tohjaya mengirimkan pasukannya untuk menangka Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Rencana Tohjaya telah diketahui lebih dulu oleh Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, sehinnga keduanya berhasil melarikan diri sebelum pasukan Tohjaya tiba di tempat kediamannya. Untuk menyelidiki tempat persembunyian Ranggawuni dan Mahesa Cempaka, Tohjaya mengirim pasukan kerajaan di bawah pimpinan Lembu Ampal. Namun, Lembu Ampal akhirnya menyadari bahwa yang berhak atas tahta kerajaan ternyata Ranggawuni. Maka ia berbalik memihak Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Ranggawuni yang dibantu oleh Mahesa Cempaka dan Lembu Ampal berhasil merebut tahta kerajaan Singasari dari tangan Tohjaya. Selanjutnya, Ranggawuni menduduki tahta kerajaan Singasari.  Raja Wisnuwardhana Ranggawuni naik tahta atas kerajaan Singasari dengan gelar Wisnuwadhana dibantu oleh Mahesa Cempaka dengan gelar Narasinghamurti. Mereka memerintah bersama kerajaan Singasari (1248-1268). Wisnuwardhana sebagai raja, Narasinghamurti sebagai ratu angabhaya. Pemerintahan kedua penguasa tersebut membawa keamanan dan kesejahteraan . Pada tahun 1254 M, Wisnuwardhana mengangkat putranya sebagai Yuva raja (raja muda) dengan maksud mempersiapkan putranya yang bernama Kertanegara menjadi seorang raja besar di kerajaan Singosari. Setelah Wisnuwardhana meninggal dunia (dialah satu-satunya raja yang meniggal tidak terbunuh di kerajaan Singosari), tahta kerajaan beralih kepada Kertanegara.  Raja Kertanegara Raja Kertanegara (1268-1292) merupakan raja terkemuka dan raja terakhir dari kerajaan Singasari. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Singasari mencapai masa kejayaannya. Stabilisasi kerajaan yang diwujudkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana disempurnakan lagi dengan tindakan-tindakan yang tegas dan berani. Setelah keadaan Jawa Timur dianggap baik, Raja Kertanegara melangkah keluar wilayah Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita persatuan seluruh nusantara di bawah Panji kerajaan Singasari. Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat dilihat dari pelakasanaan politik luar negeri dan dalam negeri. a. Politik dalam negeri Dalam rangka mewujudkan stabilitas politik dalam negeri, raja Kertanegara menempuh jalan sebagai berikut ;  Mengadakan pergeseran pembantu-pembantunya seperti Mahapatih Raganata digantikan oleh Aragani. Raganata diangkat menjadi Adhiyaksa di Tumapel. Juga banyak Wide yang berasal dari rakyat biasa diangkat menjadi pegawai tinggi dengan gelar Arya Wiraraja dan diangkat menjadi Bupati Semenap (Madura).  Berbuat baik terhadap lawan-lawan politiknya seperti mengangkat Putra Jayakatwang (Raja Kediri) yang bernama Ardharaja menjadi menantunya. Juga Raden Wijaya (cucu Mahesa Camapaka) sebagai nmenantunya.  Memperkuat angkatan perang. Raja Kertanegara membangun dan memperkuat angkatan perang baik angkatan darat maupun angkatan laut untuk menciptakan keamanan dan ketetertiban di dalam negeri, serta untuk mewujudkan persatuan Nusantara. b. Politik Luar Negeri Sebagai raja besar Kertanegara dalam politik luar negerinya bercita-cita mempersatukan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari. Ia berusaha juga memperkuat pertahanan kerajaan dalam menghadapi serangan Kerajaan Cina-Mongol (Kaisar Khubilai Khan). Untuk mencapai cita-cita politiknya itu, Raja Kertanegara menempuh cara-cara sebagai berikut;  Melakasanakan Ekspedisi Pamalayu (1275 dan 1286 M) untuk menguasai Kerajaan Melayu serta melemahkan posisi Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka.  Menguasai Bali (1284 M)  Menguasai Jawa-Barat (1289)  Menguasai Pahang (Malaya) dan Tanjung Pura (Kalimantan). Garis Pahang-Tanjung Pura mempunyai tiga fungsi. Pertama, untuk menguasai lalu-lintas pelayaran-perdagangan di Laut Cina Selatan. Kedua, untuk pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Cina-Mongol. Ketiga, untuk mengepung wilayah kekuasaan Sriwijaya. Di samping hal-hal tersebut di atas, Raja Kertanegara menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa. Kerjasama ini diikat melalui perkawinan adik Raja Kertanegara yang bernama Putri Tapasi dengan Raja Campa. Walaupun menempuh segala upaya, pasukan Cina-Mongol berhasil menerobos pertahanan-pertahanan Kerajaan Singasari dan mendarat di Pulau Jawa. Tetapi sebelum pasukan China-Mongol tiba, Raja KErtanegara meniggal akibat serangan Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri. SILSILAH RAJA-RAJA SINGASARI 3. Kehidupan Sosial Ketika Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel, ia berusaha meningkatkan kehidupan masyarakatnya. Kehidupan sosial masyarakat menjadi lebih terjamin. Terjaminnya kehidupan sosial masyarakat Tumapel ini mengakibatkan bergabungnya daerah-daerah yang terletak di sekitar daerah Tumapel. Keadaan seperti ini mengakibatkan kaum brahmana Kediri yang menentang Raja Kertajaya melarikan diri ke Tumapel dan meminta perlindungan Ken Arok. Perhatian Ken Arok terhadap segi-segi kehidupan sosial masyarakatnya sangat besar, sehingga rakyatnya dapat hidup dengan aman dan mencapai tingkat kesejahteraan. Namun, setelah pemerintah Anusapati, kehidupan sosial masyarakat kurang mendapat perhatian, karena Anusapati larut dengan kegemarannya sendiri, yaitu menyabung ayam. Barulah pada masa pemerintahan Wisnu Whardana, kehidupan sosial masyarakat Kerajaan singasari mulai diatur rapi. Hak-hak rakyat dipulihkan kembali. Rakyat dapat hidup tentram dan damai. Keadaan tersebut juga terjadi pada masa pemerintahan rakyat Kertanegara. Raja Kertanegara berusaha untuk menstabilkan keadaan di dalam negeri Kerajaan Singasari dengan meningkatkan taraf kehidupan masyarakatnya, sebelum melancarkan politik luar negerinya untuk mencapai cita-cita persatuan Nusantara. 4. Kehidupan Ekonomi Kehidupan ekonomi, semenjak berdirinya kerajaan Singasari tidak jelas diketahui. Akan tetapi, mengingat kerajaan Singasari berpusat di Jawa Timur, yaitu di tepi sungai Brantas, kemungkinan masalah perekonomian tidak jauh berbeda dengan kerajaan-kerajaan terdahulunya, yaitu secara langsung maupun tidak langsung rakyatnya ikut ambil bagian dalam dunia pelayaran. Keadaan ini juga didukung olehhasil-hasil bumi yang sangat besar hasilnya bagi rakyat jawa Timur. Raja kertanegara berusaha untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka. Penguasaan jalur pelayaran perdagangan atas Selat Malaka itu, bertujuan untuk membangun dan mengembangkan aktifitas perekonomian kerajaannya. Dengan kata lain, Raja Kertanegara berusaha menarik perhatian para pedagang untuk melakukan kegiatannya di wilayah kerajaan Singasari. 5. Kehidupan Budaya Gambaran perkembangan kebudayaan sejak berdirinya Kerajaan Singasari terlihat dari ditemukannya peninggalan berupa candi-candi sdan patung-patung yang dibangun dari zaman kekuasaan Kerajaan Singasari, diantaranya Candi Kidal, Candi Jago, dan Candi Singasari. Sedangkan patung-patung yang berhasil ditemukan adalah patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambing kesempurnaan ilmu, patung Kertanegar dalam wujud patung Joko Dolok yang ditemukan dekat Surabaya, dan patung Amoghapasa juga merupakan perwujudan Raja Kertanegara yang dikirim ke Dharmacraya ibukota Kerajaan Melayu (patung Amoghapasa dapat dilihat di Museum Nasional atau Meseum Gajah Jakarta). Kedua perwujudan patung Raja Kertanegara baik patung Joko Dolok maupum patung Amoghapasa menyatakan bahwa Raja Kertanegara menganut agama Buddha beraliran Tantrayana (Tantriisme). 6. Akhir Kerajaan Singasari Usaha untuk memperluas wilayah dan mencari dukungan dari berbagai kerajaan yang dilakukan oleh Kertanegara menjadikan perhatian terhadap pertahanan dalam kerajaan lemah. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Jayakatwang, penguasa Kediri.ia berusaha merebut kekuasaan Kertanegara. Ketika Kertanegara sedang melakukan upacara keagamaandengan pesta-pora, tiba-tiba Jayakatwang menyerbu istana Kerajaan Singasari. Serangan Jayakatwang terbagi dari dua jurusan. Sebagian kecil pasukan Kedirimenyerang dari Utara untuk memancing pasukan Singasari keluar dari pusat kerajaan, sedangkan induk pasukan Kediri bergerak dan menyerang dari arah Selatan. Untuk menghadapi serangan Jayakatwang, Kertanegara mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Raden Wijaya dan pangeran Ardaraja. Ardaraja adalah anak Jayakatwang dan menantu Kertanegara. Pasukan Kediri dari arah Utara dapat dikalahkan oleh pasukan Raden Wijaya. Akan tetapi, pasukan inti dari Kediri dengan leluasa akhirnya masuk dan menyerang istana sehingga berhasil menewaskan Kertanegara. Peritiwa ini terjadi pada tahun 1292 M. Raden Wijaya dan pengikutnya kemudian meloloskan diri setelah mengetahui istana kerajaan dihancurkan oleh pasukan Kediri, sedangkan berbalik bergabung dengan pasukan Kediri. Jenasah Kertanegara kemudian dimakamkan di dua tempat, yakni di Candi Jawi di Pandaan dan di Candi Singasari, di daerah Singasari, Malang. Dengan terbunuhnya Kertanegara, maka berakhirlah Kerajaan Singasari. Bab ii KERAJAAN MAJAPAHIT Dalam sejarah Indonesia, Kerajaan Majapahit merupakan yang paling mengesankan, karena merupakan suatu kerajaan besar yang disegani oleh banyak Negara asing dan membawa keharuman nama Indonesia sampai jauh keluar wilayah Indonesia. Namun Kerajaan Majapahit pada hakekatnya menerima banyak unsure politis, kebudayaan, sosial, ekonomis dari Kerajaan Singasari, sehingga pembahasan sejarah Majapahittidak dapat dipisahkan dari sejarah Kerajaan singasari. Sumber sejarah  Prasasti Butak (1294 M). prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasi naik tahtakerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan Kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan.  Kidung harsawijaya dsn kidung Panji Wijaya Karma. Kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari Kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit.  Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dam Majapahit.  Kitab Negarakertgama, menceritakan tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Jwa Timur. 1. Berdirinya Kerajaan Majapahit Raden Wijaya bersama pengikutnya berhasil meloloskan diri pada saat Kerajaan Singasari diserbu oleh pasukan Jayakatwang. Dalam pelariannya, R. wijaya menuju Kedung Peluk, kemudian ke Kapulungan, terus ke Rabut Carat, melanjutka ke Pamwatan, ke Trung, terus ke Kembang Sri. Sampai di desa ini, ternyata mereka masih dikejar oleh tentara Jayakatwang. Akhirnya rombongan Raden Wijaya terpaksa menyeberang aliran sungai Brantas dan sampailah di desa Kudadu. Pada waktu rombongan R. Wijaya menyeberang sungai Brantas, banyak anggota rombongan yang hanyut dan tertawan ole musuh, sehingga rombongan R. Wijaya tinggal dua belas orang. Setelah beberapa saat istirahat di desa Kudadu, atas desakan beberapa pengikut disarankan agar rombongan R. Wijay melanjutkan perjalanan ke Madura untuk minta bantuan dan perlindungan kepada Arya Wiraraja. Kebetulan dalam rombongan R. Wijaya ada seorang yang bernama \Nambi, putra dari Arya Wiraraja. Melaluai desa Rambang, rombongan R. Wijaya menyeberangi selat Madura dan melanjutkan perjalanan sampai di Sumenep. Rombongan diterima baik oleh Arya Wuraraja. Di Madura itulah Arya Wiraraja dan Raden wijaya Menyusun siasat untuk merebut kembali tahta kerajaan yang dikuasai Jayakatwang. Setelah segalanya disiapkan secara matang, Raden Wijaya dan rombongan dengan didampingi Arya Wiraraja berangkat ke jawa. Dengan pura-pura takluk dan atas jaminan Arya Wiraraja, Raden Wijaya diterima mengabdi sebagai prajurit di Kediri. Raden wijaya kemudian meminta sebidang tanah di hutan Tarik untuk tempat kedudukannya. Ketika sedang membersihkan hutan tersebut, salah seorang tentaranya merasa haus, maka dimakannyalah buah maja. Buah itu rasanya pahit maka tempat itu disebut majapahit. Tahun 1293 M dating pasukan Kaisar Cina ke Jawa untuk menuntut balas terhadap tindakan Kertanegara yang telah melukai utusan cina. Pasukan Cina tidak mengetahui kalau kertanegara telah terbunuh. Dengan cerdiknya Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Cina ini untuk menggempur Jayakatwang. Oleh Raden Wijaya ditunjukkan agar tentara Cina menggempur Jayakatwang. Terjadilah pertempuran yang sengit antara tentara Cina (yang dibantu oleh sebagian pengikut Raden Wijaya) dengan tentara Kediri. Dalam pertempuran ini Kediri dapat dikalahkan. Jayakatwang dan Ardaraja dapat ditangkap dan ditahan di Hujung Galuh sampai meninggal dunia. Dengan kemenangan yang gemilang ini tentara Cina mulai lalai, mabuk dengan kemenangannya. Situasi ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menyerang tentara Cina. Serangan mendadak ini manjadikan banyak tentara Cina yang terbunuh, sementara sebagian yang selamat melarikan diri kembali ke Cina. Detelah situasi aman, Raden Wijaya mengangkat dirinya sebagai raja Kerajaan Majapahit. 2. Aspek Kehidupan Politik dan Pemerintahan Majapahit telah mengembangkan system pemerintahan yang cukup lengkap dan sangat teratur. Raja memegang kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh berbagai badan atau pejabat yang tertinggi dalam dua kelompok birokrasi sebagai berikut. a. Rakryan Mahamantri Katrini, dijabat oleh para putra raja, terdiri atas Rakryan I Hino, Rakryan I Sirikan, dan Rakryan I Halu. b. Dewan pelaksana, terdiri atas Rakryan Mahapatih atau patih mangkubumi Rakryan Tumengung, Rakryan Demung, Rakryan Rangga, dan Rakryan Kanuruhan. Kelima pejabat ini dikenal sebagai Sang Panca ring Wilwatika. Diantara kelima pejabat itu Rakryan Mahapatih dan Patih Mangkubumi merupakan pejabat yang paling tinggi. Ia menduduki jabatan sebagi Perdana Menteri. Bersama-sama raja, ia menjalankan kebijaksanaan pemerintahan. Disamping jabatan tersebut, ada dewan pertimbangan yang disebut dengan Batara Sapta Prabu. Struktur tersebut ada di pemerintah pusat. Disetiap daerah yang berada di bawah raja-raja daerah juga dibuat struktur yang mirip dengan struktur birokrasi di pusat. Dari segi hukum peradilan Majapahit sudah sangat maju. Untuk menciptakan pemerintahan yang bersih dan berwibawa, dibentuk badan peradilan yang disebut dengan Saptopati. Untuk mendukung keterlaksanaan hukum disusun kitab hukum yaitu kitab Kutaramanawa. Kitab ini disusun oleh Gajahmada. Gajah mada memang seorang negarawan yang benar-benar mumpuni. Ia memahami olah pemerintahan, strategi perang, dan hukum. Berkat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada stabilitas politik Majapahit terjamin. Hal ini juga didukung oleh tentara Majapahit dan angkatan lautnya yang kuat. Semua perairan nasional dapat diawasi. Majapahit juga telah menjalin hubungan dengan negara-negara / kerajaan lain. Hubungan dengan Negara Siam, Birma, Kamboja, Anam, India, dan China berlangsung dengan baik. Dalam membina hubungan dengan luar negeri, Mjapahit mengenal Motto “mitreka satka” yang artinya Negara sahabat. 3. Kehidupan Keagamaan Kehidupan keagamaan di Majapahit sangat teratur dan penuh toleransi. Di Majapahit berkembang dengan dua agama yaitu dengan agama hindu dengan agama Budha. Untuk mengatur kehidupan beragama tersebut, dibentuk badan atau pejabat yang disebut Dharmadyaksa. Dharmadyaksa adalah pejabat tinggi kerajaan yang khusus menangani persoalan keagamaan. Di Majapahit dikenal ada dua Dharmadyaksa sebagai beriku ; • Dharmadyaksa ring Kasaiwan, mengurusi agama Syiwa (Hindu) • Dharmadyaksa ring Kasogatan, mengurusi agama Budha. Dalam menjalankan tugas, masing-masing Dharmadyaksa dibantu oleh pejabat keagamaan yang diberi sebutan Sang pemegat. Kehidupan beragama di Majapahit sangat berkembang. Pemeluk Hindu maupun Budha saling bersatu. Bahkan pada masa itu sudah dikenal semboyan Bhineka Tunggal Ika, artinya sekalipun berbeda-beda, baik Hindu maupun Budha pada hakikatnya adalah satu jua. 4. Perkembangan Sastra dan Kebudayaan. Bidang sastra dan kebudayaan juga mendapat perhatian dari pemerintah Hayam Wuruk. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, bidang sastra mengalami kemajuan. Karya sastra yang paling terkenal pada zaman Majapahit adalah kitab Negarakertagama. Kitab ini ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 M. disamping menunjukkan kemajuan Majapahit di bidang sastra, Negarakertagama juga merupakan sumber sejarah Majapahit. Kitab lain yang penting adalh Sutasoma. Kitab ini disusun oleh Empu Tantular. Kitab Sutasoma memuat kata-kata yang sekarang menjadi semboyan Negara Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika. Di samping menulis Sutasoma, Empu Tantular juga menulis kitab Arjuna Wiwaha. Bidang seni bangunan juga berkembang. Banyak candi telah dibangun. Candi-candi yang telah dibangun waktu itu, antara lain Candi Penataran dan Sawentar di daerah Blitar, Candi Tlagawangi dan Surawana di dekat Pare, Kediri, serta Candi Tikus di Trowulan. 5. Kemunduran Kerajaan Majapahit Kemunduran Majapahit ditandai dengan Candrasengkala, Sirnailang Kertaning Bumi = tahun 1400 S atau tahun 1478 M. banyak peristiwa dan factor yang menjadikan kerajaan besar Majapahit akhirnya mengalami kemunduran. Pada tahun 1364 M, Majapahit kehilangan tokoh dan pemimpin yang tidak ada bandingnya. Gajah Mada meninggal dunia. Hayam Wuruk kesulitan mencari pengganti Gajah Mada. Tidak ada seorangpun yang sanggup menggantikan peran dan kedudukan Gajah Mada. Tahun 1389 M, Hayam Wuruk meninggal dunia. Majapahit kehilangan lagi seorang pemimpin yang cakap. Meninggalnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk berpengaruh sangat besar terhadap menurunnya pamor Majapahit. Kemunduran Majapahit mencapai puncaknya ketika muncul perang saudara antar keturunan kerajaan. Pertentang dan peperangan itu terjadi antara Wikramawardana dengan Bre Wirabumi. Bre Wirabumi kecewa dengan pengangkatan Wikramawardana sebagai Raja Majapahit.Perang saudara ini dikenal dengan perang Paregreg. Girindrawardana yang oleh banyak orang disebut sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit. Ia memerintah sampai tahu 1519 M. sesudah Girindrawardana dikalahkan oleh tentara Islam dari Demak, Majapahit benar-benar runtuh. DAFTAR PUSTAKA Badrika, I Wayan. 2000. Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk SMU Kelas 1. Jakarta: Erlangga. Rokhman, Nur dan Supardi. 2006. Mari Belajar Sejarah untuk SMA-MA Kelas XI IPA. Yogyakarta: SIC. Matroji. 2004. Sejarah untuk SMP Kelas VII. Jakarta: Erlangga Matroji. 2003.Sejarah SLTP untuk Kelas 1 Edisi Revisi. Jakarta: Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar